RAHAYU TRAVEL
Home > Profesional & Layanan Bisnis > Servis > Travel Agent yang Tidak Profesional & Mengecewakan

Travel Agent yang Tidak Profesional & Mengecewakan


1167 dilihat

Saya adalah mahasiswa pasca sarjana yang sering pulang pergi Malang-Jogja via travel. Beberapa Travel Agent pernah saya coba. Baru kali ini saya temukan Travel Agent yang sangat tidak profesional.

Saat ini saya sedang praktek kerja di salah satu Rumah Sakit di Magelang. Karena minggu ini saya tidak membawa kendaraan sendiri, terpaksa saya memilih Travel sebagai alternatif transport yang nyaman. Mengapa? Karena saya tidak perlu ke Terminal atau Stasiun. Mereka biasa menjemput dan mengantarkan saya langsung pada tempat tujuan.

Beberapa Travel Agent di Magelang coba saya hubungi, mana yang dapat menjemput dan mengantarkan saya langsung pada tempat tujuan. Dengan harga Rp17.000,- Rahayu Travel memberikan tawaran, dan tambahan Rp5000,- untuk satu tempat penjemputan sebelum berangkat.

Oke, saya ambil dan kita sepakat dengan harga itu. Kemudian saya memesan tiga tiket untuk saya dan dua orang teman saya. Pada hari dan jam yang telah di sepakati (Sabtu, 19 Juli 2008 jam 13.00 WIB) saya dijemput di Rumah Sakit tempat saya akan berangkat.

Sesampainya di Travel Agent, sudah banyak penumpang yang menunggu, dan sambutan dari Kasir tempat saya membayar pun cukup ramah. Setelah saya pindah mobil yang akan membawa saya ke Yogya, perjalanan baik-baik saja.

Awal ketidakprofesioanalan Rahayu Travel, tiba-tiba saya mendapat telp dari pihak Travel yang menanyakan apakah Drivernya sudah menjemput penumpang di Hotel X. Setelah saya tanyakan ke Drivernya ternyata sudah. Mestinya, mereka memfasilitasi Drivernya dengan alat komunikasi ketika terjadi hal-hal yang diluar prediski, seperti penumpang tidak ada di tempat saat dijemput, bingung mencarai alamat, penumpang yang tiba-tiba membatalkan janji, atau apalah.

Karena selama ini semua Travel Agent yang saya gunakan pasti menelepon ketika mereka bingung mencari alamat dimana saya berada. Hal ini sudah tidak menjadi masalah bagi saya, hitung-hitung membantu Travel Agent itu meski kesannya tidak profesional.

Perjalanan dilanjutkan dengan Driver yang mengendarai kendaraannya cukup tenang, dengan kecepatan rata-rata 80-100km/ jam. Di tengah perjalanan, ternyata ada razia Polisi. Semua kendaraan diperiksa. Mereka yang surat-suratnya lengkap dengan cepat berlalu dari razia itu.

Namun Driver ini lama sekali berurusan dengan Polisi, dan terlihat ia menulis dan menandatangani sesuatu. Ternyata si Driver terkena tilang. Coba bayangkan sebuah profesi yang setiap harinya dijalani kok bisa kena tilang. Entah pelanggaran apa yang dilakukan, tapi jika dilihat dari dua sisi semestinya tidak akan terjadi jika Rahayu Travel dapat lebih profesional.

Jika memang dari segi Sumber Daya Manusia (SDM-nya) terkena tilang karena tidak punya SIM atau SIM-nya habis masa berlakunya, semestinya jika profesinya memang Driver, SIM adalah senjatanya. Ibarat kata Dokter dengan stetoskopnya dan ijin prakteknya, jika Dokter tidak mempunyai izin praktek apa boleh ia menyuntik pasien? Begitu juga jika Driver tidak punya SIM, apakah ia layak mengendarai mobil apalagi itu mobil angkutan umum yang membawa nyawa banyak orang.

Akan menjadi hal yang lumrah (meskipun melanggar hukum) jika yang tidak mempunyai SIM ini adalah Sopir amatiran seperti saya yang tidak menjadikan Driver sebagai profesi, tapi tidak berlaku bagi seorang Driver profesional. Satu hal ini jika ditinjau dari SDM. Jika penilangan itu karena surat-surat kendaraan yang kurang lengkap, apakah wajar jika hal ini terjadi pada kendaraan yang jadi sarana utama untuk mencari nafkah.

Bayangkan jika timbangan yang dipakai untuk kita membeli gula ternyata tidak pas atau sudah masanya ditera ulang, atau pompa bensin tempat kita biasa mengisi bensi setiap hari ternyata tidak pas literannya. Begitu juga dengan mobil yang terkena tilang ini. Sekali lagi tidak akan jadi masalah besar meski melanggar hukum juga mobil yang surat-suratnya ini kurang lengkap jika itu mobil pribadi. Mengapa? Karena mobil pribadi ini belum tentu setiap hari dipakai, juga sama halnya dengan saya pribadi yang (misalkan tidak punya SIM A) kemudian menyetir mobil, toh tidak setiap hari saya mengendarai mobil.

Tetapi bagi mobil travel, ini adalah sarana mereka untuk mencari uang yang setiap hari berada di jalan. Apa pantas jika didapati hal ini. Inilah ketidak profesionalan yang kedua. Karena selama saya naik travel dan ada razia, Drivernya selalu menunjukkan surat-surat yang lengkap dan dengan cepat ia segera berlalu dari razia ini.

Tidak seperti yang terjadi pada driver Rahayu Travel. Perjalanan dilanjutkan dengan kondisi emosional Driver yang terlihat kacau. Muka yang mulai kusut, ia mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi dan selalu membunyikan klakson pada setiap kendaraan yang ada di depannya.

Berkali-kali mobil kami hampir menyerempet kendaraan yang lain, bahkan hampir menabrak mobil kecil yang ada di depannya. Yang jelas kecepatan Driver mengendarai mobil jauh lebih cepat dari yang sebelumnya, lebih dari 100 km/ jam. Kami para penumpang di dalam mobil menjadi tegang, was-was, dan tidak dapat duduk dengan tenang lagi.

Sampailah kami di Yogya, dan orang pertama yang diantarkan ke tempat tujuan adalah rekan saya. Karena wajahnya yang terlihat sangat polos, kemudian Driver meminta ongkos tambahan Rp10.000,-. Meski tidak seberapa, namun itu merupakan jumlah yang sangat tidak rasional jika dibandingkan dengan ongkos perjalanan Yogya-Magelang yang hanya Rp17.000,-.

Perlu ditambahkan juga, tempat teman saya ini searah dengan perjalanan yogya-Magelang, sehingga jika dengan alasan mengeluarkan BBM lebih sehingga harus meminta ongkos tambahan, itu tidak mungkin. Sangat tidak profesional, bukan? Karena dalam kesepakatan yang kita buat, dengan membayar Rp17.000,- kami sudah diantar pada tempat tujuan. Sebelum berangkat pun mereka sudah menanyakan dimana kami akan turun, dan mereka tidak meminta ongkos tambahan. Mestinya jika mereka minta ongkos tambahan karena jaraknya jauh, mereka akan membicarakannya diawal layaknya ketika mereka akan menjemput kami di Rumah Sakit.

Dari awal mereka sudah menyatakan jika biaya penjemputan kami di rumah sakit sebelum berangkat ke Yogya Rp5000,-. Setelah itu saya tegur si Driver dan kemudian ia berangkat dan mengendarai kendaraannya dengan sangat kencang, meskipun itu di jalan kecil dan berbatu. Hal ini sangat membuat penumpang tidak nyaman. Bahkan ia terlihat kesulitan menemukan jalan keluar dari gang teman saya untuk keluar ke jalan utama.

Mungkin karena jengkel telah saya tegur, Driver tidak menurunkan saya. Padahal tempat saya turun hanya berjarak 2 kilometer dari tempat teman saya turun, dan saat itu sudah melewati depan gang kostan saya, tetapi si Driver tidak menghentikan kendaraannya. Ujarnya kami akan dibawa ke Travel Agent yang ada di Yogya. Padahal jaraknya cukup jauh, dan berlawanan arah.

Coba bayangkan? Sangat tidak rasional dan efisien kan Hal ini sangat bertentangan dengan kejadian pada teman saya. Ia meminta ongkos tambahan karena pertimbangan jarak rumah teman saya yang di luar area penjemputan (entah karena harus keluar BBM lebih atau apa), tetapi ketika mengantar saya harus menuju Travel Agent yang ada di Yogya dahulu (padahal saat itu sudah di depan gang saya) dan butuh BBM dua kali lebih banyak jika harus menuju Travel Agent terlebih dahulu. Sebuah pertimbangan yang tidak masuk akal.

Setelah saya sampai di Travel Agent Yogya (kalau tidak salah nama Travel Agent yang ada di Yogya itu Rama Sakti). Di sana saya komplain dan tidak mendapat tanggapan sama sekali dari Customer Service yang ada di depan. Mereka hanya memandangi saya layaknya saya ini orang aneh yang tidak pantas mereka perdulikan. Mereka tidak sadar jika saya ini pelanggan yang harus diberikan layan prima. Saya membaca stiker di mobil mereka bahwa kepuasan pelanggan adalah tujuan utama mereka, tapi nyatanya mana?

Kemudian saya diantarkan kembali ke tempat saya dengan Driver yang lain. Driver baru ini pun heran dengan tindakan yang dilakukan Driver pertama mengapa tidak langsung mengantarkan saya padahal tadi sudah melewati gang saya. Kali ini si Driver kedua harus kembali mengantarkan saya ke tempat tadi. Sesampainya di tempat, saya telepon ke Rahayu Travel dan mereka beralasan karena mobilnya akan dipakai ke Jakarta dan harus segera sampai di tempat.

Sekarang coba pikir, sudah di depan gang, tinggal masuk sedikit tidak sampai lima menit. Apakah ini akan mengganggu jadwal keberangkatan mobil selanjutnya? Akan tidak masalah jika jarak saya turun masih jauh. Tapi ini sudah di depan gang. Sebuah pelayanan yang sangat mengecewakan. Bagi saya tidak masalah membayar mahal, asal pelayanan yang mereka berikan memuaskan. Tapi jika dengan pelayanan seperti ini, semurah apapun mungkin orang akan berfikir ulang jika akan menggunakan Travel Agent. Yang terakhir dapat digunakan sebagai masukan bagi pihak Rahayu Travel, juga penyelenggara jasa layanan transpotrasi yang lain, tolong dipertimbangkan ketika merekrut para Driver.

Penumpang memilih travel sebagai sarana transportasi (bukan Bus atau Kereta Api) karena dengan travel ini kita para penumpang dapat dijemput dan diantar ke tempat tujuan langsung di depan rumah, tidak perlu ke Terminal atau Stasiun. Akan sangat membantu bagi mereka yang baru saja mengunjungi daerah baru yang tidak tahu alamat, diharapkan para Driver dengan sabar mengantar mereka menemukan tempat yang dicari.

Oleh karenanya dibutuhkan kualifikasi SDM yang sesuai guna memenuhi tuntutan pekerjaan ini. Mereka harus sabar dan telaten membantu penumpang menemukan alamat, tidak gampang emosi ketika jalanan macet, ramai atau ketika penumpang bingung menemukan alamatnya. Kemampuan spatial atau map cognition (kemampuan yang berkaitan dengan ruang, seperti mengingat jalan, menemukan alamat, dimana arah utara, timur atau selatan) mereka harus bagus, sehingga mereka gampang mencari dan menemukan alamat yang dicari.

Terakhir yang tidak kalah pentingnya, mereka juga harus mempunyai surat izin mengemudi (SIM) sehingga mereka tahu aturan berkendara seperti apa dan tentunya telah mendapat izin dari pihak yang berwajib. Jika hal ini telah dapat dicapai, niscaya Travel Agent anda akan banyak mendapatkan penumpang karena Driver adalah kunci utama kenyamanan penumpang selama perjalanan.

Tetapi sayangnya hal ini tidak terdapat pada Driver Rahayu Travel yang membawa saya dari Magelang ke Yogyakarta. Semoga cerita saya ini dapat dijadikan bahan masukan dan pertimbangan bagi pihak Travel Agent itu sendiri, khususnya dalam hal ini Rahayu Travel. Juga bagi saudara-saudara saya sekalian yang akan memilih travel sebagai alternatif sarana transportasi, silahkan mempertimbangkan hal-hal yang telah saya sampaikan di atas guna kenyamanan dan kepuasan. Atas perhatiannya saya sampaikan terima kasih.

ADIB ASRORI, S.Psi
Jl. Kaliurang Km.5 Pogung Baru blok D 12A
Yogyakarta




Source : kompas


Baca Juga





SuratPembaca

Cari keluhan surat terbuka resmi dan curhat terbaru sebagai sarana komunikasi dari seluruh konsumen untuk produk terkenal di Indonesia.

Hubungi Kami

Silahkan hubungi kami jika ada pertanyaan dan menjadi partner
Jakarta, Indonesia
letstalk@suratpembaca.com
Senin - Jumat
09:00 - 17:00

Sosial

suratpembaca apps