Home > Finansial > Asuransi > Allianz Insurance RS Santosa Internasional Bandung Absurd

Allianz Insurance RS Santosa Internasional Bandung Absurd


1287 dilihat
Jakarta - Saya adalah subscriber dari Allianz Insurance dengan Nomor Peserta NKNET-00058. Baru-baru ini saya mendapatkan surat dari pihak asuransi Allianz sebagai provider asuransi kesehatan di perusahaan tempat saya bekerja. Saya harus membayar Rp.72.600,00 atas kelebihan 30 ml jumlah kandungan vitamin yang diberikan oleh dokter saat kedua anak saya menggunakan fasilitas pasca rawat inap di RS Internasional Santosa Bandung/Santosa Bandung International Hospital (RSISB/SBIH). Saya sangat kecewa akan hal ini. Beberapa waktu sebelumnya di bulan Februari 2007 di RS yang sama, dengan menggunakan asuransi yang sama saat istri saya harus menginap di sana, terjadi penarikan biaya yang juga sangat absurd. Kami diminta membayar Rp.8500,00 untuk termometer air raksa di ruang inap istri saya, dan kemudian pihak Allianz menolak membayar termometer tersebut karena bukan termasuk biaya pengobatan/di luar coverage Allianz untuk rawat inap. Karena saat itu situasi cukup panik bagi saya dan kedua anak kami yang masih kecil, saat memeriksa tagihan SBIH, saya tidak melihat adanya biaya Rp 8,500,00 untuk biaya termometer dan akibatnya saat kami keluar dari SBIH, termometer itu kami tinggal karena kami anggap bukan milik kami. Seandainya saja pihak manajemen SBIH memberitahu bahwa kami telah membayar termometer, maka tentu saya akan bawa benda itu, dan tidak mempermasalahkan bila Allianz menolak mengganti termometer. Karena saya telah bayar maka saya berhak memilikinya. Tetapi kenyataannya lain. Dua hal ini, baik yang menimpa anak-anak saya dan juga istri saya, terjadi suatu keabsurdan dalam penarikan biaya administrasi pengobatan oleh SBIH kepada kami sebagai pengguna asuransi Allianz dikarenakan hal-hal sebagai berikut: 1. Sebagai pemegang polis Allianz, apakah saya harus selalu bertanya kepada pihak RS provider (SBIH misalnya) tentang kemungkinan tidak tertanggungnya obat/alat yang digunakan saat kami (saya, istri dan anak-anak kami) harus rawat inap di RS Provider dari Allianz? Bila ya, tentu luar biasa repotnya saya sebagai konsumen Allianz. Asuransi dipakai untuk memberikan kenyamanan, bukan kekhawatiran akan dicover/tidaknya fasilitas yang dipakai saat pengguna asuransi menggunakan polisnya. 2. Sebagai salah satu RS provider dari Allianz dengan kualitas Platinum, apalagi memegang gelar (mengaku) International, seharusnya SBIH memberikan transparansi akan fasilitas yang tersedia bagi pasien rawat inap pemegang polis Allianz (juga polis lain tentunya). Penggelaran sebagai RS berstandar International bukan berarti hanya tersedianya peralatan yang modern, tetapi juga kebakuan sistem manajemen di dalamnya. Transparansi biaya adalah salah satu yang wajib disediakan oleh RS di luar negeri (Allianz sebagai perusahaan Jerman, tentu memiliki transparansi biaya ini, seperti yang saya temukan saat menggunakan asuransi kesehatan dari perusahaan saat saya bekerja di Belanda, VGZ), bila RS luar negeri di eropa menjadi acuan bagi SBIH. Adanya kerjasama dengan pihak asing tidak membuat SBIH secara otomatis menjadi RS berstandar Internasional. Standardisasi mencakup masalah kualitatif dan kuantitatif, bukan sekedar piagam kerjasama. Bila masalah thermometer ini tidak dijelaskan kepada pasien, bisa saja di kemudian hari, pasien harus membeli bantal, kasur, yang bisa saja tertinggal karena pasien tidak jelas akan hal ini, mengingat bantal dan kasur juga adalah alat bagi pasien. Siapa tahu? 3. Pihak Allianz dan SBIH sebagai salah satu RS provider harus selalu melakukan up to date terhadap klausul kerja sama kedua belah pihak, dan tidak menimpakan tanggungjawab akan apa saja fasilitas yang tersedia di SBIH yang disediakan oleh Allianz sebagai pihak provider asuransi. Sangat tidak masuk akal bila pasien yang harus selalu mencari informasi tentang tercover/tidaknya obat/fasilitas yang disediakan oleh dokter/RS. Kasus anak-anak saya yang menerima resep dokter untuk vitamin (yang saya sebagai orang awam medis tidak mengetahuinya bila membaca resep dokter tersebut) yang kemudian ternyata berada di luar coverage Allianz, sangat membuat saya berang. Apakah saya harus bertanya setiap saat kepada dokter saat recheck kondisi anak-anak/istri saya pasca rawat inap? Seperti "Apakah ini vitamin? Bila ya, tolong jangan melebihi X mililiter, karena tidak tercover oleh asuransi saya" dan seterusnya. Bukan masalah biaya Rp8,500,00 untuk termometer istri saya dan juga Rp72,600,00 yang saya permasalahkan. Biaya itu memang relatif kecil, tetapi bila saya harus terus menerus menerima perlakuan di mana saya harus membayar apa yang tidak tercover oleh Allianz, seolah-olah menyatakan bahwa kami sebagai konsumen tampak seperti pihak pengguna asuransi yang tidak tahu diri, yaitu meminta layanan obat/fasilitas yang berada di luar coverage Allianz, padahal karena pihak SBIH yang tidak transparan dan tidak meng up to date klausul kerjasama antara Allianz dan SBIH lah, semua ini terjadi. Saya sangat mengharapkan adanya penjelasan akan hal ini, karena surat pembaca saya sebelumnya untuk masalah termometer pada saat istri saya dirawat inap di SBIH di bulan Februari 2007 belum dijawab oleh SBIH dan juga Allianz. Sebagai pembelajaran bagi saya dan juga pengguna polis Allianz di SBIH Bandung. Alexander Priyo Pratomo Jl. Asia Afrika 57-59 Lt 12 Bandung 40111 Bandung 0812 202 7851 (msh/nrl)




Silahkan Login / Daftar untuk memberi tanggapan




SuratPembaca

Cari keluhan surat terbuka resmi dan curhat terbaru sebagai sarana komunikasi dari seluruh konsumen untuk produk terkenal di Indonesia.

Hubungi Kami

Silahkan hubungi kami jika ada pertanyaan dan menjadi partner
Jakarta, Indonesia
admin@suratpembaca.com
Senin - Jumat
09:00 - 17:00

Sosial