Home > Pertanian, Pertambangan & Konstruksi > Konstruksi > Perlakuan tidak menyenangkan oleh petugas bioskop XXI Pejaten Village

Perlakuan tidak menyenangkan oleh petugas bioskop XXI Pejaten Village


398 dilihat

Saya akan cerita tentang pengalaman mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari petugas bioskop XXI Pejaten Village. Pada 30 Juli 2014, saya dan keponakan ingin menonton film "Step Up All In" di Bioskop XXI Pejaten Village pada jadwal pukul 12:30. Setelah mendapat tiket langsung masuk studio 1 di deret bangku E5 & E6. Pada saat itu penonton tidak begitu banyak mungkin sekitar 30 orang, jadi studio keliatan sepi. Film yang berdurasi 112 menit ternyata membuat saya agak bosan dan di sekitar 10-15 menit film berakhir, sambil menunggu film habis saya keluarkan HP untuk ngecek mungkin ada bbm/sms. Karena tidak ada, akhirnya membuka FB dan juga Instagram. Ketika saya membuka Instagram karena gelap saya salah pencet tombol kamera dan ketika akan ke menu home tiba-tiba blitz kamera terpencet dan blitz menyala, tapi buru-buru saya matikan. Ternyata tindakan saya yang bermain hp membuat petugas curiga. Salah satu petugas perempuan naik tangga menuju ke arah bangku saya tapi tidak melakukan apa-apa, tapi ternyata dia memata-matai saya dari belakang. Karena merasa saya tidak mengganggu, saya tetap mainin hp, kali ini membaca Twitter. Nggak berapa lama, petugas perempuan tadi menghampiri saya dan mengatakan dia melihat saya merekam film, lalu saya melambaikan tangan memberi tanda kalau saya tidak merekam film. Selanjutnya petugas memberikan peringatan pada saya tapi karena suara di studio keras, jadi nggak jelas apa yang diperingatkan. Maka saya diamkan saja. Setelah petugas itu turun lagi, saya tetep memainkan hp saya lanjut membaca twitter karena bosan film belum juga selesai. Nggak berapa lama film habis, dan ketika lampu dinyalakan saya melihat ada petugas satpam yang menunggu di depan pintu. Benar saja, satpam ini menghentikan saya dan meminta saya ke ruang petugas. OMG lebay banget.... Petugas meminta hp saya untuk diperiksa, saya bilang "silakan". Tapi kayaknya pak satpam nggak paham smartphone, akhir saya yang tunjukin folder2 yg dicurigai tempat menyimpan foto/film. Karena tidak ditemukan apa yang mereka tuduhkan. Saya lalu jelaskan tadi saya di dalem bosan makanya main hp dan salah pencet, makanya blitz camera nyala. Tapi bukannya mengerti, pak satpam tetep nggak percaya dan bilang petugas kami melihat saya merekam film. hadeeh koq ngeyel... Karena kesal diperlakukan seperti penjahat, akhirnya saya bicara dengan agak emosi, "Bapak sudah liat kan nggak ada bukti foto/film di hp saya. Lagian ngapain saya rekam film yang 10 menit lagi udah mau habis. Kalau saya niat merekam dari awal film saya rekam. Kalau pun saya mau gambar/film itu saya bisa download dari google/youtube. Tapi petugas masih saja menyudutkan saya kalau petugas melihat kegiatan saya tadi di dalam. Sambil setengah marah, saya bilang "tenang aja pak saya bukan maling" dan saya ucapin sekali lagi di depan petugas perempuan yang tadi menuduh saya di dalam. Mukanya cemberut ketika saya bilang seperti itu. Kalau memang takut film-nya direkam, bikin peraturan dilarang membawa handy cam, kamera atau hp sekalian dan periksa di pintu masuk setiap benda2 yg bisa merekam, jadi penonton nggak merasa dicurigai seperti maling.



Source : kaskus


Baca Juga





SuratPembaca

Cari keluhan surat terbuka resmi dan curhat terbaru sebagai sarana komunikasi dari seluruh konsumen untuk produk terkenal di Indonesia.

Hubungi Kami

Silahkan hubungi kami jika ada pertanyaan dan menjadi partner
Jakarta, Indonesia
admin@suratpembaca.com
Senin - Jumat
09:00 - 17:00

Sosial

suratpembaca apps