Home > Pemerintah > Sistem > Naturalisasi dan Gagalnya Pembinaan PSSI

Naturalisasi dan Gagalnya Pembinaan PSSI


592 dilihat

Jakarta - Di sebuah harian nasional, 21 Desember 2010, Bapak Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI dengan bangga mengatakan PSSI telah berhasil dalam menjalankan program-programnya. Keberhasilan ini ditunjukan dengan suksesnya Tim Nasional Sepak Bola Indonesia di AFF 2010 dalam perjalanannya menuju final.

Keberhasilan ini bisa diraih sebab munculnya pemain muda potensial yang dibesarkan, diuji, dan dimatangkan di Liga Super Indonesia (LSI). Bapak mengatakan keberhasilan ini merupakan rangkaian visi sepak bola Indonesia 2020 yang anda jalankan.

Benarkah Bapak sudah mengalami keberhasilan? Kalau dikatakan sudah berhasil itu merupakan jawaban yang prematur. Sebab, pertandingan final dari AFF belum dilakukan.

Kemenangan tim nasional dalam perjalanan menuju final kalau diselusuri bukan hanya karena apa yang dikatakan oleh Bapak tadi. Namun, juga dikarenakan Indonesia sebagai tuan rumah dan pemain naturalisasi, Christian Gonzales.

Sebagai tuan rumah tentu faktor ini mampu menjadi pemain ke-12 bagi tim nasional Indonesia. Ceritanya akan lain, misalnya, bila pertandingan semifinal juga dilakukan di Filipina. Sebab, tim nasional Filipina bukan tim yang lemah. Terbukti Indonesia dalam dua pertandingan hanya menang 1-0. Dengan skor yang demikian Filipina bisa memenangi pertandingan atas Indonesia bila dilakukan di negaranya.

Justru PSSI, Bapak melakukan sebuah upaya sistematis ke depan yang tidak akan memberi kesempatan kepada talenta-talenta muda Indonesia. Dengan program naturalisasi yang terus digencarkan hal demikian akan semakin tidak memberi kesempatan kepada talenta muda untuk tampil. Kalau kita lihat sebenarnya talenta muda Indonesia sangat menunjukan bakatnya.

Naturalisasi yang dilakukan oleh Bapak hanya sebuah ketergesagesaan atau kejar setoran agar PSSI mempunyai prestasi. Naturalisasi ini dilakukan dengan cara mengambil secara mentah-mentah. Naturalisasi memang penting. Namun, beberapa negara Eropa melakukannya bukan dengan sebuah langkah yang gegabah. Bukan dilandasi yang penting 'bule'. Namun, merupakan seleksi yang cukup kuat. Menunjukan bakatnya. Serta, sudah lama tinggal di negara itu dan melawan kebijakan antiimigrant.

Jerman melakukan naturalisasi terhadap Samir Khadira, Mezut Oezil, dan Jerome Boateng bukan sebuah langkah yang gampang. Sentimen antiimigran di negara itu masih kuat. Dulu di Timnas Jerman ada pemain berdarah Ghana, Afrika, yang bernama Gerald Asamoah. Ketika Jerman di bawah pelatih Jurgen Klinsman banyak suporter timnas dan pengurus DFB yang tidak setuju dengan langkah Jurgen Klinsmann memasukan Asamoah ke dalam tim yang dijuluki Panzer itu. Mereka belum bisa menerima pemain dari kaum imigran dan kulit hitam.

Naturalisasi ketiga pemain, Khadira yang berdarah Tunizia, Oezil berdarah Turki, dan Boateng berdarah Ghana tidak menjadi masalah. Sebab, ketiga pemain itu menunjukkan prestasinya saat di Timnas Junior Jerman. Dan, selanjutnya ketiga pemain itu mampu menjadi tulang punggung Timnas Jerman dalam Piala Dunia 2010.

Demikian pula di Perancis. Sentimen antiimigran bisa menyebabkan banyak orang keturunan Aljazair, Maroko, dan negara-negara Afrika bekas koloni Perancis tidak bisa menjadi bagian dari nasionalisme Perancis. Namun, karena kelihaian Zidene Zidane, Nasri Samir, Karim Benzema, Eric Abidal, Hatem Ben Arfa, dan pemain lainnya dalam bermain bola maka mereka menjadi bagian dari nasionalisme Perancis dengan menjadi pemain timnas sepak bola negara yang berjuluk Pangeran Biru itu.

Demikian pula Deco. Pemain berdarah Brasil dinaturalisasi oleh Portugal sebab Deco sudah lama menetap di negara itu. Pemain-pemain yang dinaturalisasi itu juga bukan dari klub sembarangan. Semua bermain di liga premier negara masing-masing.

Dalam naturalisasi seharusnya Bapak mendengar apa yang dikatakan oleh mantan pemain Tim Nasional Belanda yang berdarah Ambon, Simon Tahamata. Mantan pemanin Ajax Amsterdam itu mengatakan, PSSI harus berhati-hati dan cermat untuk melakukan naturalisasi terhadap para pemain asing keturunan Indonesia. Perhitungan PSSI harus matang dan cermat dalam melakukan naturalisasi pemain. Jika tidak maka program ini tidak akan berhasil mendongkrak prestasi Indonesia di pentas sepak bola internasional.

Dikatakan lebih lanjut PSSI harus selektif memilih pemain asing yang akan dinaturalisasi menjadi warga negara Indonesia. Percuma saja jika pemain yang dinaturalisasi berkualitas sama dengan para pemain yang bermain di berbagai klub di Tanah Air saat ini.

Apa yang dikatakan Simon Tahamata itu betul. Dari dua naturalisasi pemain, Christian Gonzales dan Irfan Bachdim, hanya Christian Gonzales yang menunjukan kelebihan di atas pemain Indonesia lainnya. Sementara Irfan Bachdim tidak lebih baik. Bahkan, menurut penulis Irfan Bachdim kalah jauh dibanding dengan Okto Maniani, Muhammad Ridwan, Zulkifli Syukur, Yongki Ari Wibowo, dan pemain muda yang memiliki talenta lainnya.

Terbukti dari beberapa pertandingan Irfan Bachdim diganti oleh Bambang Pamungkas. Bahkan, dalam pertandingan terakhir melawan Filipina, ia tidak diturunkan sama sekali. Dari ketidakjelasan pemain naturalisasi, belum-belum PSSI hendak memanggil Kim Jeffery. Padahal, pemain yang sudah melakukan naturalisasi itu tidak lebih dari Irfan Bachdim.

Naturalisasi sebenarnya sebuah fakta bahwa PSSI di bawah kepengurusan Bapak telah gagal melakukan pembinaan. Gagalnya pembinaan mengakibatkan prestasi sepak bola selalu tak berhasil dalam setiap even. Gagal pembinaan dan kejar setoran untuk meraih prestasi itulah dijawab oleh Bapak dengan kata naturalisasi.

Sebenarnya Bapak tidak perlu meniru beberapa negara Eropa melakukan naturalisasi. Mereka melakukan naturalisasi karena masalah jumlah penduduk. Namun, kita perlu belajar kepada Korea Selatan, Spanyol, Italia, Korea Utara, Jepang, negara-negara Afrika, Amerika Latin, dan kawasan Timur Tengah, yang tidak melakukan naturalisasi namun mampu mempunyai tim nasional yang tangguh. Mereka memiliki tim nasional tangguh karena mempunyai program pembinaan yang benar.

Ardi Winangun
Matraman, Jakarta
*****@****.***?
08159052503

Pengamat Sepak Bola.



(msh/msh)






Baca Juga





SuratPembaca

Cari keluhan surat terbuka resmi dan curhat terbaru sebagai sarana komunikasi dari seluruh konsumen untuk produk terkenal di Indonesia.

Hubungi Kami

Silahkan hubungi kami jika ada pertanyaan dan menjadi partner
Jakarta, Indonesia

Jika ada yang merasa tidak sesuai / sebaiknya dihapus, tolong sertakan link yang anda maksud pada halaman ini dan memastikan sumber dari surat pembaca sudah ditutup / masalah terselesaikan / dihapus.
Akan diproses 1 s/d 7 hari.

Kirimkan Masukan

[email protected]
Senin - Jumat
09:00 - 17:00

Sosial