Suami Meninggal, Asuransi Jiwasraya, dan KPR BNI Griya



Home > Finansial > Asuransi > Suami Meninggal, Asuransi Jiwasraya, dan KPR BNI Griya

1691 dilihat


Jakarta - Pada bulan April tahun 2008 saya dan suami (alm) membeli sebuah apartemen di daerah Kemang Jakarta dengan menggunakan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) BNI Griya dari Bank BNI cabang Kota Jl Lada No 1 Jakarta Kota atas nama suami saya. Pada tanggal 23 Juni 2008 suami saya meninggal dunia.

Saat itu saya langsung memberikan informasi mengenai hal ini kepada BNI dan diterima oleh Bapak Sigit di bagian Sentra Kredit Konsumen (SKK) dan saya mendapatkan informasi bahwa pada saat itu juga rekening KPR akan diblokir dan semua bunga akan dihentikan.

Oleh karena KPR dijamin oleh asuransi jiwa atas nama suami saya maka saya mengajukan klaim asuransi tersebut. Pengajuan klaim baru bisa saya laksanakan pada awal Juli 2008 karena diperlukan dokumen-dokumen pendukung yang harus saya urus terlebih dahulu dan memakan waktu yang tidak sebentar. Formulir pengajuan klaim serta dokumen pendukung tersebut akan diteruskan oleh pihak BNI kepada Auransi Jiwasraya.
?
Di bulan Agustus saya menghubungi BNI kembali untuk menanyakan kelanjutan proses klaim. Saya mendapatkan informasi bahwa klaim belum dapat diproses karena masih diperlukan dokumen yang telah dilegalisir oleh Kelurahan dan Kecamatan.

Saya sempat terkejut karena tidak ada informasi sebelumnya mengenai hal itu. Tetapi, saya masih berusaha untuk bersabar mengingat Bapak Sigit sangat cooperative serta menaruh perhatian penuh dalam menangani kasus ini. Saya juga menyadari bahwa verifikasi dokumen adalah wewenang dari pihak asuransi. Kemudian saya memenuhi semua persyaratan tersebut dengan harapan proses klaim akan cepat selesai.
?
Pada pertengahan bulan September 2008 saya mendapatkan informasi dari pihak
Asuransi Jiwasraya bahwa klaim saya tidak dapat dibayarkan penuh sesuai jumlah sisa kredit (outstanding balance) karena saya hanya membayar premi sebagian dan mereka meminta saya untuk mengklarifikasi kembali kepada BNI.

Saya katakan bahwa saya telah menyediakan dana di rekening tabungan BNI untuk pendebetan premi asuransi secara penuh dan kalau pihak BNI hanya mendebet separuh. Itu bukan kesalahan saya karena saldo pada saat itu lebih dari cukup dan saya mempunyai bukti yang tercetak di buku tabungan.

Saya mulai merasa ada yang tidak beres antara BNI dan Jiwasraya. Tapi, sekali lagi saya berusaha untuk bersabar dan bekerja sama dengan baik. Lalu saya menghubungi pihak BNI dan mendapatkan informasi bahwa ada kekurangan pendebetan. Namun, hal ini sudah diproses lebih lanjut dengan pihak Jiwasraya.

Saya hubungi kembali pihak Jiwasraya dan saya tanyakan mengapa pihak Jiwasraya dapat mengeluarkan polis dengan pertanggungan penuh sementara premi belum dibayar penuh oleh BNI. Dalam hal ini saya tidak mendapatkan informasi yang jelas dan terjadi saling menyalahkan antara BNI dan Jiwasraya.

Kemudian saya katakan kepada kedua belah pihak bahwa semua itu adalah urusan internal antara BNI dan Jiwasraya di mana saya sebagai nasabah yang telah memenuhi kewajibannya tidak perlu tahu masalah internal mereka dan sangat tidak profesional apabila proses tertunda sekian lama karena ketidakberesan internal dan nasabah yang menjadi korban.

Saya makin yakin ada ketidakberesan dalam administrasi mereka. Tetapi, lagi-lagi saya masih mencoba untuk bersabar karena pada dasarnya saya bukan orang yang suka dengan konflik.
?
Di bulan Oktober 2008 kembali saya menghubungi kedua belah pihak di atas untuk lagi-lagi menanyakan proses yang masih tertunda. Pada saat itu saya sudah mulai tidak sabar. Informasi yang saya terima adalah proses sudah tinggal mendapatkan persetujuan dari pimpinan yang berwenang. Namun, karena terpotong libur panjang Idul Fitri maka sedikit ada penundaan. Lagi-lagi saya mencoba untuk mengerti kondisi tersebut.
?
Karena kesibukan saya menjelang akhir tahun 2008 maka saya baru dapat menghubungi kedua belah pihak pada bulan Januari 2009. Ternyata klaim sudah disetujui dan telah dibayarkan oleh pihak asuransi kepada BNI dengan pertanggungan penuh sesuai dengan sisa kredit (outstanding balance).

Di sini saya merasa bahwa sayalah yang telah aktif menghubungi kedua belah pihak proses tertunda sekian lama (kurang lebih 7 bulan) tanpa adanya rasa bersalah dari kedua pihak. Menganggap hal ini adalah hal biasa dan kalau saya tidak aktif menanyakan maka tidak ada orang yang menghubungi saya.
?
Karena saya sudah capek dan merasa percuma untuk meminta pertanggungjawaban atas lamanya proses klaim maka saya tidak mau mempermasalahkan lebih lanjut. Yang penting semua sudah beres. Saya kemudian menghubungi BNI kembali untuk mengurus pengambilan dokumen-dokumen yang dijaminkan.

Namun, alangkah terkejutnya saya ternyata BNI belum bisa mengembalikan dokumen-dokumen tersebut karena saya masih mempunyai tunggakan yang berasal dari bunga berjalan antara bulan Juni 2008 ke bulan Juli 2008 (jeda waktu untuk mengurusan klaim) dan ditambah dengan biaya administrasi sebesar 2% karena saya dianggap melunasi pinjaman sebelum jatuh tempo. Padahal kasus ini adalah kasus kematian di mana pelunasan sebelum jatuh tempo bukan atas kehendak debitur.

Saya merasa sangat dipermainkan dalam hal ini dan saya sudah tidak dapat tinggal diam. Di sini pun saya masih memenuhi permintaan BNI untuk membuat surat keberatan atas biaya-biaya tersebut dan meminta untuk menghapuskan biaya-biaya tersebut walaupun seharusnya tanpa saya minta BNI selayaknya menghapuskan biaya-biaya tersebut dikarenakan semua pokok pinjaman telah lunas dan ini tidak dapat disamakan dengan kasus yang biasa (mengingat ketidakberesan yang terjadi) dan saya telah bersabar menunggu sampai 7 bulan. Kasus saya mungkin dapat juga dipelajari oleh pihak Auditor BNI di mana ada ketidakberesan administrasi BNI kota.
?
Tanggal 2 Februari 2009 saya mendapatkan surat balasan yang ditandatangani oleh Bapak Sandy Setiawan selaku wakil pimpinan SKK yang menolak permintaan saya. Kembali saya terkejut-kejut atas perlakuan BNI kepada nasabahnya.

Saya kemudian menghubungi Bapak Sandy untuk membicarakan hal ini. Tapi, saya mendapatkan jawaban yang sangat-sangat tidak profesional sebagai seorang pimpinan di mana saya mendapatkan kesan bahwa sebagai kreditur BNI bisa bersikap sangat arogan di mana biaya-biaya tersebut tidak dapat dihapuskan dan apabila saya tidak mau membayar maka dokumen tetap akan ditahan sampai jatuh tempo. Sebegitu kakunyakah prosedur di BNI.

Lalu saya katakan bagaimana dengan uang yang telah dibayarkan oleh asuransi. Jawabannya adalah uang tersebut tidak dapat diberikan kepada saya. Akan ditahan oleh BNI dan akan dipakai untuk membayar cicilan tiap bulan sampai dengan jatuh tempo kredit. Baru setelah itu dokumen jaminan dapat saya ambil. Tentunya itu sangat tidak masuk akal dan saya merasa adanya pembodohan terhadap konsumen. Saya sangat tersinggung karena semua pokok pinjaman telah dilunasi.

Kemudian Bapak Sandy juga mengatakan, "jadi berapa yang Ibu sanggup bayar, kalau tidak sanggup bayar silahkan membuat surat ketidaksanggupan untuk membayar." Pernyataan ini jelas-jelas sangat tidak profesional di mana saya jadi seperti seorang 'penunggak hutang' yang tidak mampu membayar sedangkan saya tidak mempunyai hutang di BNI.

Saya sangat marah dan tidak dapat terima akan pernyataan tersebut di mana saya harus memohon sesuatu yang tidak saya lakukan dan itu tidak layak diberlakukan kepada saya. Harusnya sebagai seorang pimpinan dapat lebih mempelajari kasus tersebut sebelum membuat suatu keputusan. Sudah untung saya tidak menuntut BNI atas lamanya proses klaim.
?
Untuk saat ini semua sudah tidak dapat ditoleransi kembali. Saya akan menggunakan 'jalur hukum' untuk menyelesaikan kasus ini karena saya telah terlalu lama dipermaikan. Sebagai langkah awal saya meminta BNI untuk memberikan permintaan maaf secara tertulis atas kasus di atas. Saya telah rugi waktu, rugi tenaga, serta adanya pelecehan atas harga diri saya sebagai debitur yang telah memenuhi kewajibannya.

Surat ini juga akan saya kirimkan ke Bank Indonesia serta ke YLKI. Perjanjian Kredit no: JKK/251/2008 tgl 04/04/08 atas nama Alm Mouland Brahmana.

Dini H Brahmana
Jln Bendungan Jatiluhur No 14 Jakarta
dini.brahmana@yahoo.com
0215733211

(msh/msh)




Silahkan Login / Daftar untuk memberi tanggapan





jasa foto produk
Sebelum request penghapusan artikel mohon request penghapusan kepada sumber terlebih dahulu, jika belum solved / terhapus kami akan abaikan

Laporkan Suratpembaca ini : admin at suratpembaca.web.id
Tolong Sertakan URL / Alamat lengkap halaman ini