Surat Pembaca Indonesia

Garuda Indonesia Payah

Transportasi & Fasilitas Umum

Istri saya kehilangan stroller (kereta dorong bayi/anak) setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta dari Sydney, Australia, pada 26 Desember 2010 dengan penerbangan GA 713. Padahal seperti biasa, stroller disimpan di depan pintu boarding dan sejumlah penumpang lainnya juga menitipkan hal yang sama yang nantinya dibawa masuk oleh awak pesawat ke dalam pesawat. Istri saya pun mengajukan pengaduan kepada pihak Garuda dan akhirnya diminta untuk mengisi formulir Courtesy Report dengan File No. 6161 bertanggal 26 Desember dengan tanda-tangan agent signature bernama Ridwan. Menurut pihak maskapai Garuda Indonesia, mereka akan mencari stroller tersebut dan jika ditemukan akan diantarkan ke tempat tinggal kami. Pihak Garuda Indonesia juga berjanji akan menelpon kami. Pada waktu melapor, ternyata tidak hanya istri saya saja yang kehilangan stroller, seorang bule dalam penerbangan yang sama pun melaporkan kehilangan stroller. Setelah ditunggu-tunggu, kabar dari Garuda Indonesia tidak ada. Padahal mereka berjanji akan menelpon. Pada tanggal 30 Desember 2010, saya menelpon Garuda Indonesia di nomor 021 – 5506076 (nomor yang mereka berikan) tetapi tak bisa masuk karena sibuk. Dan pada nada terakhir bahkan nada telepon tidak aktif. Saya menelepon lagi tanggal 2 Januari 2011 yang menerima adalah perempuan bernama Cindy. Saya menanyakan keberadaan stroller itu, tapi ternyata menurut dia belum ada kabar juga. Dia berjanji akan menelepon saya. Lama ditunggu, ternyata tidak ada kabar juga dari pihak Garuda Indonesia. Saya pun menelepon kembali pada tanggal 10 Januari 2011 untuk menanyakan. Ternyata barang itu belum ada juga dan kata orang yang menerima telepon akan dicari di gudang serta berjanji akan menelpon saya 15 menit lagi. Boro-boro 15 menit, saya tungguin sampai 3 jam tidak ada itu telepon dari Garuda. Saking jengkelnya, saya telepon lagi besoknya (11/1/2011), ternyata nadanya selalu sibuk dan bahkan beberapa kali nada telepon tidak tersambung. Saya akhirnya menelepon 021 – 2351 9999 dan diterima oleh Michelle (maaf jika salah dalam penulisan) serta mendapat jawaban untuk mengadukan keluhan saya ke nomor 021 – 550 6076. Akhirnya saya telepon ke nomor tersebut di hari yang sama dan diterima oleh seorang pria. Dia juga memberikan jawaban bahwa barang saya harus dicari dulu di gudang karena katanya belum ada laporan penemuannya. Saya bingung loh sudah berhari-hari barang saya hilang kok belum dicari juga dan bahkan saya sudah complain tiga kali? Kenapa selalu dibilang dicari dulu di gudang? Dan katanya pihak Garuda Indonesia akan menelepon saya untuk mengabarkan barang tersebut, tetapi tidak ada tuh telepon dari pihak Garuda Indonesia kepada saya sejak istri saya melaporkan kehilangan dan malah saya terus yang menelpon yang akhirnya selalu mendapat jawaban yang sama. Jawaban seperti , “belum ada pak kabar dari Sydney, kami sudah mengabarkan kehilangan ini ke sana ” serta Jawaban, “coba kami cek dulu pak di Gudang…” Bah! Barang itu sudah hilang sejak 26 Desember 2010, memangnya enggak dicari-cari? Alangkah payahnya Garuda Indonesia dalam mengatasi kehilangan barang penumpang padahal itu kesalahan Garuda Indonesia sendiri. Dan mungkin karena seperti ini cara handling masalahnya, banyak orang yang menilai jelek terus maskapai Garuda Indonesia. Dari kasus ini, mungkin kita harus berpikir berulang-kali untuk menggunakan jasa maskapai Garuda Indonesia. Eka Zulkarnain Hadiwidjoyo Jl. Moch Kahfi II, No. 7 RT 003/008, Srengseng Sawah, Jagakarsa Jakarta Selatan 12640


1165 dilihat