Surat Pembaca Indonesia

Kehancuran Anak Indonesia Lewat Iklan, Promosi, dan Sponsorship Rokok

Lain-Lain

Tadi malam, tepatnya tanggal 24 Mei 2009 sekitar pukul 20.00, di daerah rumah orang tua saya (kelurahan Depok Jaya, Depok) diselenggarakan nonton bareng layar tancap di sebuah lapangan. Mencoba untuk membuka kembali memori masa kecil, saya bersama kakak dan keponakan saya yang berumur 4 tahun datang untuk menonton layar tancap yang memutar film horor itu. Namun, apa yang saya lihat saat itu. Ternyata masa kecil saya tidak bisa terbayarkan.Alih-alih produk baterai atau jamu yang mengadakan acara serupa ini ketika saya kecil, tadi malam ternyata produk tersebut digantikan oleh produk rokok (LA Lights). Walhasil, setiap titik-titik strategis lapangan dikuasai oleh tenda-tenda LA Lights. Selain itu, SPG rokok bersliweran menawarkan rokok pada penonton sepanjang film diputar. Ada juga acara tambahan berupa penampilan band di sela-sela pemutaran film.Hati saya miris melihat fenomena tersebut. Larangan iklan di TV di luar pukul 21.30 - 05.00 pun tak berlaku karena di setiap sela-sela film, iklan rokok selalu muncul. Penonton yang lebih dipenuhi dengan anak-anak, terpapar dengan iklan dan promosi rokok. Mereka melebur dengan acara nonton film, penampilan band, pembagian hadiah yang diberikan oleh sponsor LA Lights. Jadi, tidak heran apabila anak-anak tersebut akhirnya merokok karena kondisi yang ada di sekitar mereka membentuk persepsi bahwa merokok adalah perbuatan yang wajar.Padahal, semua orang tahu bahwa rokok mengandung ribuan zat yang berbahaya bagi kesehatan dan bahkan mengakibatkan kematian. Di lain pihak, masih banyak orang yang belum paham bahwa kegiatan seperti ini merupakan cara perusahaan rokok menyasarkan produknya untuk anak-anak kita. Sudah semestinya pemerintah mengatur kembali kebijakan yang berpihak pada anak dengan melarang iklan, promosi, dan sponsorship rokok demi terbentuknya generasi penerus bangsa Indonesia yang sehat. Cahya Bambu Apus Jakarta Timur


1013 dilihat